Kantor Jasa Konsultan Hukum Darta Consulting- Darta Consulting merupakan perusahaan penyedia jasa konsultan pajak dan hukum. Semua partner yang menangani segala permasalahan clien adalah para profesional dibidangnya dan telah berpengalaman. Untuk itu mari mengenal lebih dekat para partner konsultan hukum Darta Consulting berikut ini :

Partner Konsultan Hukum – Nikodemus Silaban

Partner DME Consultant

Cita-cita menjadi pengacara sudah tertanam sejak duduk di SMA dulu. Ketertarikannya di dunia hukum karena gemar membantu orang lain. Rasa bangga dan puas dirasakannya ketika masalah yang dibantunya bisa terselesaikan dengan baik. Demikian kata Nikodemus Silaban, salah satu pengacara yang juga associate partner Darta Consulting.

Menurutnya, di dalam kehidupan bermasyarakat ada aturan atau hukum yang mengaturnya, agar dalam berinteraksi tercipta ketertiban, keadilan, dan ketenteraman. Karena hukum mengatur hak dan kewajiban serta melindungi kepentingan individu dan sosial.

“Hukum di Indonesia menarik. Karena jika berbicara tentang common law atau civil law, hukum di Indonesia dibuat terlebih dulu untuk mengatur kehidupan di dalam masyarakat. Berbeda dengan negara lain, apa yang dibutuhkan di dalam masyarakat yang kemudian dibuat di dalam hukum,” tutur pria kelahiran Jakarta, 1 Mei 1988 kepada Darta Consulting di Pejompongan Raya, Jakarta Pusat.

Usai tamat kuliah S1 dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten, Niko, sapaan akrab Nikodemus, langsung menekuni bidang hukum dengan bekerja di salah satu perusahaan multi nasional sebagai legal staf. Dari situlah awal mula karir Niko di dunia hukum. “Dari situ saya bekerja di law firm dan setelah itu saya bergabung dengan Darta Consulting pada Mei 2016,” terangnya.

Menurut dia pengacara adalah sebuah profesi yang mulia (officium nobile), advokat atau pengacara hanya bisa dikatakan sebagai profesi mulia dan terhormat apabila melaksanakan profesi hukumnya dengan mendasarkan diri pada nilai-nilai moralitas umum yang terdapat dalam aturan kode etik advokat.

Sejak di bangku SMA, Niko sudah punya cita-cita ingin jadi pengacara. Saat itu, kata dia, ada tes minat dan bakat untuk menentukan kuliah yang akan diambil nanti. “Saat tes minat dan bakat ada beberapa pilihan, salah satunya adalah menjadi pengacara. Saya pun tanpa berpikir panjang langsung memilih menjadi pengacara,” kenangnya.

Dia mengungkapkan suka dan dukanya menjadi pengacara. Menurut Niko, sukanya menjadi pengacara adalah ketika berhasil membantu orang lain. Dukanya itu ketika menangani suatu perkara, ada kendala-kendala yang dihadapi baik itu datangnya dari internal maupun eksternal. “Yang terpenting adalah jangan sampai kita salah melangkah atau salah mengambil keputusan, karena itu akan berimbas kepada klien,” ujarnya.

Sementara hal yang paling berkesan selama menjadi pengacara adalah jika klien yang pernah atau yang sedang ditanganinya merekomendasikan kemampuannya kepada orang lain. “Kalau kita memberikan service yang terbaik kepada klien maka otomatis kita akan direferensikan ke orang lain,” kata dia.

Profesi yang ia jalankan mendapat dukungan dari keluarga. Misalnya saat berdiskusi mengenai perkara yang sedang dihadapi, keluarga begitu merespons dengan baik. Keluarga menurutnya begitu mengerti pekerjaan yang dijalaninya. “Saya juga belajar dari Pak De (Darwis Manalu, Founder dan CEO Darta Corp). Beliau mengatakan, saat bekerja ya harus total, namun dia juga bilang bahwa jangan melupakan keluarga,” cetusnya.

Baca Juga : ‌Berapa Tarif dan Biaya Konsultan Hukum?

Biodata:
Nama lengkap : Nikodemus Silaban
Jabatan             : Associate Partner DME Consultant
Pendidikan       :
– S1 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, 2011
– S2 Universitas Indonesia, 2016
Pengalaman kerja:
– PT First WAP, Legal (Desember 2010-Pebruari 2015)
– HOP Law Firm, Associate Partner (Maret 2015-April 2016)
– DME Consultant, Associate Partner (Mei 2016-saat ini)

Partner Konsultan Hukum – Pardamean Octavianus

Partner DME Consultant

Tidak suka dunia hukum, terutama hukum di Indonesia. Kecemplung di dunia hukum bagi pria kelahiran Jakarta, 5 Oktober 1991 ini lantaran ia mengambil kuliah jurusan hukum. Dia tertarik di ranah hukum karena senang membantu orang lain. Oleh sebab itu, pria bernama Pardamean Octavianus kini menjadi pengacara sekaligus associate partner Darta Consulting sejak Maret 2017.

Pardo, begitu dia biasa dipanggil, mengatakan, saat kali pertama menjadi pengacara yakni ketika bekerja di salah satu perusahan asuransi nasional pada 2014 lalu. Setelah itu, dia buka law firm sendiri pada Maret 2015 hingga Januari 2017, dan kemudian bergabung di Darta Consulting. “Inilah tempat yang saya cari. Saya ingin mengembangkan diri. Saya masih muda dan butuh pengalaman, butuh guru dan sosok, serta panutan seperti Pak Darwis. Saya banyak belajar dari beliau,” kata dia.

Pardo menjelaskan mengenai hukum di Indonesia. Menurut dia, hukum di Indonesia cukup bervariatif namun tertinggal. Hukum yang tertinggal, lanjut dia, meskipun Indonesia sudah 72 tahun merdeka dari penjajahan, namun Indonesia masih menggunakan sangat banyak undang-undang (UU) dan peraturan warisan Hindia Belanda. Indonesia hanya mampu merespons dengan aturan peralihan pada UU Dasar 1945, yang intinya hanya menyatakan bahwa UU warisan Belanda masih berlaku sepanjang belum diatur.

Menurutnya ada lima hukum dasar (basic laws) peninggalan Pemerintah Hindia Belanda yang belum bisa diganti oleh pemerintah Indonesia, yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer), KUH Acara Perdata (KUHAPer), KUHPidana, KUHAP, dan KUHDagang. “Namun ada perbaikan yang cukup signifikan seperti di dalam UU Perbankan,” terangnya.

Di balik profesinya saat ini, Pardo sebenarnya punya cita-cita ingin menjadi arsitek bangunan. Namun perjalanan karir berkata lain. Meski tak sesuai harapan, dia tetap bangga menjadi seorang pengacara. Dia menjalani pekerjaannya dengan penuh semangat dan selalu menyediakan waktu untuk membantu permasalahan yang dihadapi kliennya.

Di dalam menjalankan pekerjaannya itu, dia menuturkan suka dan dukanya menjadi pengacara. Menurutnya, pengacara punya waktu yang fleksibel alias tidak terikat dengan waktu dan bisa mendapatkan wawasan yang banyak dengan mengembangkan diri seluas-luasnya. “Saya pernah dihubungi klien jam 2 pagi untuk membahas suatu perkara, ya mau tidak mau dan suka tidak suka harus saya layani, karena itu bagian dari tugas saya,” imbuhnya.

Dia pun mengaku tak ada masalah dengan pembagian waktu antara pekerjaan dengan keluarga ataupun teman. Pardo mengatakan, keluarga ataupun teman sudah memahami profesi yang dijalaninya, sehingga dirinya leluasa dan tak ada kendala saat menjalankan aktivitasnya kapan pun diperlukan.

Meski demikian, dia tetap menyediakan waktu khusus untuk keluarga, seperti hari Sabtu dan Minggu. Akan tetapi, terkadang di waktu bersantai tersebut digunakan juga untuk bertemu klien. “Saya salut dengan Pak Darwis bahwa dia bisa membagi waktu antara keluarga dengan bisnisnya. Itu yang saya harus banyak belajar dari beliau,” tutup Pardo.

Baca Juga : Kenali Syarat Legal Sebelum Memulai Bisnis

Biodata:
Nama lengkap : Pardamean Octavianus Sihombing
Jabatan             : Associate Partner DME Consultant
Pendidikan       :
– S1 Universitas Indonesia, 2014
– S2 Universitas Indonesia, 2016
Pengalaman kerja:
– Asuransi Jiwa Manulife, Legal (Pebruari 2014-Pebruari 2015)
– HOP Law Firm, Associate Partner (Maret 2015-Januari 2017)
– DME Consultant, Associate Partner (Maret 2017-saat ini

Partner Akuntan Publik – Muller Manalu

Partner DME Consultant

Ketertarikan di dunia audit dan perpajakan sudah muncul sejak di bangku kuliah. Bagi pria bernama Muller Manalu, bekerja di bidang audit dan perpajakan memiliki prospek yang menjanjikan. Oleh karena itu, usai lulus kuliah pada 2001, Muller mengawali karirnya di perusahaan akuntan publik sebagai auditor pada 2002 silam. Setelah sejumlah perusahaan telah ia singgahi, akhirnya pada 2016, ia pun berlabuh dan menjadi partner Darta Consulting.

“Menjadi konsultan pajak sangat menjanjikan. Setiap saat pertumbuhan perusahaan kian bertambah dan perusahaan tentu akan membutuhkan jasa konsultan pajak, sehingga banyak peluang yang bisa diraih,” kata Muller di kantor DME Consultant, Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat.

Menurutnya, keberadaan konsultan pajak sangat dibutuhkan para wajib pajak, baik itu orang pribadi maupun badan/perusahaan. Pasalnya, masyarakat belum semuanya mengerti mengenai pajak atau mengerti cara membuat laporan keuangan. Selain itu juga banyak perusahaan tak mau repot mengurus pajak mereka, sehingga mereka memakai jasa konsultan pajak.

Pria pemalu ini sempat punya cita-cita ingin menjadi tentara. Sejak SMP dia kerap latihan fisik dengan membawa beras dan berjalan kaki di kampungnya di Medan. Meski cita-citanya itu tak tercapai, Muller tak berputus asa, dia tetap menjalankan apa pun yang sudah menjadi jalan hidupnya. “Tidak semua cita-cita bisa direalisasikan, ya saya di Jakarta ini profesi apa pun saya jalankan. Saya pernah menjadi sales. Yang terpenting kita menjalankan pekerjaan dengan fokus dan baik,” kenang pria yang sudah mengantongi sertifikasi Brevet A dan B.

Ia mengisahkan suka dukanya selama menjalankan profesinya sebagai auditor dan konsultan pajak. Menurut dia, sukanya menjadi konsultan pajak adalah sering berkunjung ke perusahaan-perusahaan di luar kota. Selain itu, hal yang menjadi menarik baginya adalah ketika bisa memecahkan solusi kepada klien. “Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Dan tentunya kepuasaan bagi klien karena masalahnya telah terpecahkan,” imbuhnya.

Sedangkan dukanya yakni, saat Muller mengaudit banyak perusahaan, mereka tidak menyiapkan data yang berhubungan dengan hal yang ingin diaudit. Misalnya, ketika hendak mengaudit laporan keuangan perusahaan, ternyata laporan keuangannya belum lengkap. Namun, bagi Muller hal ini ia jadikan tantangan dan pengalaman yang berharga.

Saat ditanya hal apa yang paling berkesan dalam menjalankan pekerjaannya. Dia menceritakan, pada tahun 2009 dirinya dalam kondisi tidak punya uang. Nah, dalam kondisi seperti itu tiba-tiba dia dihubungi dan ditawarkan oleh sebuah perusahaan di Jambi untuk memintanya mengaudit. “Saya tidak tahu siapa yang memberitahu tentang saya dan memberi nomor telepon saya. Itu kan artinya bukan kuasa saya. Saya bersyukur sekali,” terang Muller dengan mata berbinar.

Sementara dalam bekerja, dia selalu mendapat dukungan penuh dari keluarga, terutama sang istri tercinta. “Istri saya mendukung pekerjaan, termasuk waktu kerja. Pembagian waktu kerja pun fleksibel, artinya sesuai kebutuhan. Hari Sabtu saya ke gereja dan Minggu bisa berkumpul bersama keluarga. Jika ada pekerjaan yang belum selesai ya bisa saya kerjakan di rumah,” pungkasnya.

Rencana ke depan, Muller akan mengejar dan meraih sertifikasi Brevet C. Sebagai partner Darta Consulting, dia ingin selalu memberikan yang terbaik kepada setiap klien.

Baca Juga : Ini yang Harus Anda Ketahui tentang Merger dan Akuisisi

Biodata:
Nama lengkap : Muller Manalu
Jabatan             : Associate Partner DME Consultant
Pendidikan      : S1 Akutansi, Universitas Advent Indonesia, Bandung, 2001
Pengalaman kerja:
– Akuntan Publik Bisner Sitanggang & Rekan, Auditor Junior (2002-2003)
– Akuntan Publik Bisner Sitanggang & Rekan, Supervisor (2003-2004)
– Akuntan Publik Bisner Sitanggang & Rekan, Manajer (2004-2008)
– DME Consultant, Associate Partner (Juni 2016-saat ini)

Sertifikat: Brevet B